
Pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Ada pengetahuan yang tumbuh ketika seseorang hadir di tengah masyarakat, mengamati lingkungan secara langsung, mendengarkan pengalaman orang lain, dan terlibat dalam kegiatan yang memiliki makna bagi kehidupan sehari-hari.
Gagasan mengenai pembelajaran yang melampaui ruang kelas menjadi salah satu dasar kolaborasi antara Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah), dan Scripps College. Namun, pertemuan antara ketiga institusi ini juga memiliki konteks yang lebih personal dan historis.
Keluarga Djojohadikusumo telah memiliki hubungan yang telah terjalin dengan lingkungan Scripps College selama bertahun-tahun. Hubungan tersebut juga memiliki kedekatan khusus melalui S. Indrawati Djojohadikusumo, Wakil Ketua YAD sekaligus alumni Scripps College. Latar belakang inilah yang menjadi salah satu titik awal yang membuka ruang bagi pertemuan dan pembicaraan mengenai kemungkinan kerja sama antara YAD, Wadah, dan Scripps College.
Dari pertemuan tersebut, pembicaraan kemudian berkembang pada kemungkinan keberlanjutan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih nyata bagi mahasiswa, sekaligus membangun hubungan kelembagaan yang dapat berkembang dalam jangka panjang. Salah satu wujud awalnya adalah kerja sama dalam program relawan berbasis masyarakat di Indonesia.
Kerja sama tersebut dituangkan melalui Memorandum of Understanding (MoU) tentang Partnership Agreement for Community Based Volunteer Program yang berlaku efektif sejak 9 Februari 2026. Melalui MoU ini, Scripps College dan kedua yayasan membangun kerangka pelaksanaan program relawan berbasis masyarakat yang memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan pengembangan masyarakat di komunitas mitra di Indonesia.

Ketika Pendidikan Bertemu dengan Pengalaman Lapangan
Scripps College merupakan perguruan tinggi swasta yang berlokasi di Claremont, California, Amerika Serikat, dengan komitmen terhadap pendidikan perempuan dan pendekatan interdisipliner yang mencakup bidang seni, humaniora, ilmu sosial, dan ilmu alam. Sementara itu, Wadah memiliki fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, Kesehatan, dan pengembangan ekonomi, sedangkan YAD mendukung berbagai program di bidang pendidikan, pelayanan sosial, lingkungan, dan kebudayaan.
Meskipun memiliki bidang kerja yang berbeda, ketiganya memiliki kepentingan yang sama dalam menghadirkan pengalaman pembelajaran yang praktis, memperkuat pemahaman lintas budaya, serta mendorong proses pembelajaran bersama antara institusi dan masyarakat.
Melalui kerja sama ini, mahasiswa Scripps College mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pengalaman hands-on dalam kegiatan pengembangan masyarakat di Indonesia. Pengalaman tersebut tidak hanya menjadi pelengkap pendidikan akademis, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memahami secara langsung bagaimana masyarakat menghadapi berbagai kondisi dan mengembangkan upaya yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan mereka.
Pada saat yang sama, pengalaman berada di tengah masyarakat Indonesia memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperluas pemahaman mengenai budaya, cara hidup, dan konteks sosial yang berbeda dari lingkungan asal mereka. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berlangsung melalui materi akademis, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat dan lingkungan.

Tiga Institusi, Peran yang Saling Melengkapi
Kerja sama antara YAD, Wadah, dan Scripps College dibangun melalui peran yang saling melengkapi. YAD dan Wadah berperan dalam menyediakan lingkungan dan dukungan secara langsung. Kedua yayasan bertanggung jawab untuk menentukan pilihan lokasi kegiatan yang sesuai dengan keterampilan, minat, dan kebutuhan akademis mahasiswa, serta memfasilitasi perkenalan dengan mitra masyarakat dan pemangku kepentingan setempat.
Melalui berbagai program yang dijalankan, YAD menghadirkan pengalaman dalam bidang pendidikan, sosial, lingkungan, dan kebudayaan. Wadah memiliki pengalaman dalam pengembangan masyarakat melalui berbagai program pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi.
Keterlibatan kedua yayasan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat proses yang berlangsung di lapangan, termasuk bagaimana program dikembangkan dilaksanakan dengan mempertimbangkan konteks serta kebutuhan masyarakat setempat.
Sementara itu, Scripps College memiliki peran dalam proses seleksi, persiapan, dan pendampingan mahasiswa. Scripps College melakukan penyaringan aawal dan merekomendasikan mahasiswa yang memenuhi kualifikasi, memastikan persyaratan akademis dan administratif terpenuhi, memberikan pembekalan sebelum keberangkatan, serta menjaga komunikasi dengan YAD dan Wadah selama program berlangsung.
Pembagian peran tersebut menjadikan kerja sama ini lebih dari sekadar penempatan mahasiswa. Setiap pihak memiliki tanggung jawab dalam memastikan pengalaman yang dijalani mahasiswa dapat berlangsung dengan baik sekaligus memberikan manfaat bagi proses pembelajaran bersama.
Satu Mahasiswa, Sebuah Ruang Pembelajaran Bersama

Salah satu bentuk konkret pelaksanaan MoU ini adalah partisipasi seorang student volunteer dari Scripps College. Mahasiswa yang mengikuti program akan ditempatkan dalam kegiatan yang disepakati bersama oleh para pihak dengan mempertimbangkan kebutuhan program, minat mahasiswa, kemampuan yang dimiliki, serta persyaratan akademis.
Melalui penempatan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pengalaman praktis dalam kegiatan pengembangan masyarakat di Indonesia Namun, pengalaman tersebut tidak berhenti pada keterampilan teknis. Interaksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman lintas budaya dan membangun kompetensi global. Berada di lingkungan yang berbeda menuntut mahasiswa untuk belajar mendengarkan, memahami konteks lokal, menghargai kebiasaan dan nilai masyarakat, serta beradaptasi dengan cara kerja yang mungkin berbeda dari pengalaman sebelumnya.
Dalam proses tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar tentang masyarakat Indonesia. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk merefleksikan pengetahuan, nilai, dan cara pandang yang mereka bawa dari lingkungan akademis dan budaya asal mereka. Partisipasi satu mahasiswa tersebut sekaligus menjadi bentuk awal dari proses pembelajaran bersama antara ketiga institusi. Pengalaman yang berlangsung di lapangan dapat menjadi ruang untuk bertukar perspektif, memahami kebutuhan masing-masing pihak, dan membangun dasar bagi kerja sama kelembagaan yang lebih panjang.
Lingkungan dan Masyarakat sebagai Ruang Belajar
Kerja sama ini berfokus pada dua bidang utama, yaitu keberlanjutan lingkungan dan pengembangan masyarakat. Penempatan mahasiswa dapat dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Sangiran, Kalimantan, Sika, dan/atau Ambon. Lokasi penempatan ditentukan berdasarkan kebutuhan program, preferensi mahasiswa, pertimbangan keselamatan, serta kelayakan logistik.
Keragaman lokasi tersebut membuka kemungkinan bagi mahasiswa untuk mengalami bentuk pembelajaran yang berbeda. Setiap wilayah memiliki karakter lingkungan dan masyarakat yang berbeda. Karena itu, pengalaman yang diperoleh mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh kegiatan yang dilakukan, tetapi juga oleh kemampuan untuk memahami konteks tempat kegiatan tersebut berlangsung.
Dalam kegiatan pengembangan masyarakat, mahasiswa dapat melihat bagaimana sebuah program berinteraksi dengan kebutuhan dan dinamika komunitas. Sementara dalam kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, mahasiswa dapat mempelajari bagaimana upaya keberlanjutan diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi setempat. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sosial dan lingkungan memiliki keterlibatan erat. Kondisi geografis, kehidupan masyarakat, kebudayaan, serta berbagai faktor lokal turut membentuk cara sebuah komunitas menghadapi tantangan dan mengembangkan solusi.
Di sinilah pengalaman lapangan menjadi penting. Apa yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengalaman mengenai suatu tempat, tetapi berkembang menjadi pemahaman mengenai hubungan antara lingkungan, dan berbagai upaya yang dilakukan untuk menjaga keberlangsungannya.

Dari Pengalaman Individu Menuju Kerja Sama Jangka Panjang
Program relawan ini dirancang sebagai bagian dari hubungan kelembagaan yang lebih panjang. Penempatan standar berlangsung selama empat hingga enam minggu, sementara para pihak mengantisipasi partisipasi satu orang relawan dalam satu tahun kalender, dengan jumlah yang dapat disesuaikan berdasarkan kapasitas dan kebutuhan program. Durasi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan, beradaptasi dengan kegiatan, membangun hubungan dengan masyarakat, serta memahami proses kerja secara lebih mendalam.
Pada tingkat kelembagaan, setiap pelaksanaan program juga menjadi bagian dari proses evaluasi dan pembelajaran. Scripps College berperan dalam mengumpulkan dan membagikan umpan balik mahasiswa untuk mendukung pengembangan program. Sementara itu, YAD dan Wadah memberikan informasi mengenai perkembangan kegiatan dan pelaksanaan program kepada Scripps College.
Proses tersebut memungkinkan pengalaman seorang mahasiswa untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Apa yang ditemukan dan dipelajari selama penempatan dapat menjadi masukan bagi pelaksanaan program berikutnya, sekaligus membantu ketiga institusi memahami bagaimana kerja sama ini dikembangkan. Dengan demikian, partisipasi seorang mahasiswa menjadi lebih dari sekadar pengalaman individual. Ia menjadi bagian dari proses membangun hubungan, bertukar pengetahuan, dan menemukan bentuk pembelajaran yang dapat memperkuat kerja sama antara YAD, Wadah, dan Scripps College.
Membangun Ruang Belajar yang Berkelanjutan
Kolaborasi antara YAD, Wadah, dan Scripps College memperlihatkan bahwa pendidikan dapat menemukan ruangnya di luar kelas. Masyarakat dan lingkungan dapat menjadi bagian dari proses belajar ketika pengetahuan dipertemukan dengan pengalaman langsung.
Bagi mahasiswa, kesempatan ini membuka perspektif baru mengenai masyarakat, lingkungan, dan budaya di Indonesia. Bagi YAD dan Wadah, kerja sama ini menghadirkan ruang untuk berbagai pengalaman serta membuka hubungan dengan institusi pendidikan internasional. Bagi Scripps College, program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks yang nyata sekaligus mengembangkan pemahaman lintas budaya dan kompetensi global.
Lebih jauh, hubungan ini memiliki potensi untuk berkembang melampaui satu program dan satu periode penempatan. Dari pengalaman seorang mahasiswa, dapat tumbuh pertukaran pengetahuan antar institusi. Dari pertemuan antar komunitas, dapat berkembang pertukaran perspektif antar kultur. Dan dari hubungan antar akademisi, dapat lahir riset serta pembelajaran bersama yang memberikan manfaat lebih luas.
Pada akhirnya, kolaborasi ini bukan hanya tentang keberangkatan seorang mahasiswa ke Indonesia. Lebih dari itu, kerja sama ini merupakan upaya untuk menciptakan ruang belajar yang mempertemukan perspektif, pengalaman, dan pengetahuan.
Sebuah ruang belajar yang tidak memiliki batas pada dinding kelas, tetapi terbuka melalui masyarakat, lingkungan, dan interaksi antar manusia.

Aurora Nurhidayah Rifani
