Bella Jahrmarkt
Perkenalkan, saya Bella Jahrmarkt, baru saja menyelesaikan pendidikan di Scripps College, Claremont, California, Amerika Serikat, dengan gelar di bidang Environmental Science serta dua bidang minor, yaitu bahasa Spanyol dan Ilmu Politik. Ketertarikanku terhadap lingkungan, konservasi, kegiatan di luar ruang, dan kehidupan masyarakat membawaku pada sebuah pengalaman baru di Indonesia melalui program magang di lingkungan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) dan Yayasan Wadah.

Jejak Pengetahuan di Sangiran
Saya mengawali perjalanan di Rumah Yayasan, berlokasi di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Indonesia. Di sana, saya disambut oleh tim dan diperkenalkan dengan berbagai program yang akan saya ikuti selama enam minggu di Indonesia. Dari Jakarta yang dinamis, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Sangiran untuk bergabung dalam Program Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) 2026, di desa Manyarejo, Sragen.
Hari-hari pertama bersama tim PATI memberikan saya kesempatan untuk melihat secara langsung kegiatan arkeologi dan konservasi di lapangan. Di Museum Terbuka Manyarejo, saya membantu membersihkan dinding kotak ekskavasi dan turut dalam proses konservasi fosil, termasuk fosil Hexaprotodon di rumah Mpu Balung Mbah Setu bersama konservator dari Museum dan Cagar Budaya Sangiran serta tim PATI. Saya segera menyadari bahwa menemukan artefak hanyalah langkah awal. Proses pelestarian yang dilakukan dengan cermat memungkinkan temuan tersebut terus memberikan manfaat bagi penelitian, pendidikan, dan pemahaman masyarakat.
Latar belakang saya di bidang Ilmu Lingkungan juga memberi saya cara pandang yang berbeda terhadap kawasan tersebut. Saya menggunakan pengetahuan dari mata kuliah geologi dan sistem lingkungan untuk memahami kondisi lanskap di sekitarnya serta berdiskusi mengenai upaya perlindungan kawasan dari longsor dan berbagai bentuk degradasi akibat cuaca dan perubahan iklim. Di saat yang sama, saya terus belajar dari para profesor, mahasiswa, dan anggota masyarakat yang memiliki pengalaman dan keahlian yang berbeda dari saya.
Salah satu hal yang paling berkesan selama berada di Sangiran adalah melihat begitu eratnya hubungan antara pengetahuan lokal dan sejarah arkeologi kawasan tersebut. Saya mengunjungi museum di Manyarejo, Ngebung, Krikilan, Dayu, dan Bukuran, serta bertemu dengan Mpu Balung Mbah Sinyur. Beliau menunjukkan berbagai fosil yang ditemukannya dan mengajak saya ke lokasi tempat beliau menemukan tengkorak Stegodon. Meskipun kami tidak dapat berkomunikasi secara langsung karena keterbatasan bahasa, saya dapat melihat kecintaannya terhadap arkeologi dan masyarakat di sekitarnya.
Bekerja bersama mahasiswa, peneliti, konservator, akademisi, dan anggota masyarakat di Indonesia membuat pengalaman di Sangiran terasa lebih luas dari sekadar sebuah proyek arkeologi. Saya memang dapat berbagai pengalaman sebagai mahasiswa Ilmu Lingkungan di Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama saya juga lebih sering berada dalam posisi sebagai pembelajar. Pengetahuan saya tentang geologi membantu saya memahami sebagian aspek lanskap, sementara tim PATI memperkenalkan saya pada bidang yang sama sekali baru melalui pengalaman langsung di lapangan. Sangiran semakin menguatkan hal yang selama ini saya anggap penting dalam kerja-kerja lingkungan: upaya konservasi akan lebih kuat melibatkan orang-orang yang paling mengenal dan peduli terhadap suatu tempat.

Dari Tanah, Tumbuh Sebuah Gagasan
Sebelum meninggalkan Sangiran, saya menghabiskan waktu bersama tim Progam Kebudayaan Terpadu Sangiran (PKTS), yang membawa saya melihat sisi kerja lingkungan yang lebih dekat dengan bidang yang saya pelajari. Di sebuah Kebun Bibit Desa Konservasi, saya bersama tim LPTP mengamati lereng yang kering dan rawan longsor serta berdiskusi mengenai bagaimana pemilihan tanaman, karakteristik tanah, dan pergerakan air dapat membantu mengurangi erosi dan menstabilkan lahan. Kami juga membahas sistem drainase serta jenis tanaman yang dapat membantu menahan air dan menjaga tanah tetap pada tempatnya.
Saya juga mengunjungi salah satu peserta Sekolah Lapang Peternakan yang memiliki biodigester untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas bagi beberapa rumah tangga. Bagi saya, ini merupakan contoh sederhana namun bermakna tentang bagaimana sumber daya yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Kebun Bibit Desa Hortikultura di Manyarejo, saya membantu menyiapkan media tanam menggunakan kotoran hewan yang telah dikeringkan, tanah lokal, dan arang sekam. Saya senang dapat menerapkan pengetahuan tentang tanah yang selama ini saya pelajari di kelas dan laboratorium dalam konteks masyarakat.

Di Bantul, saya juga mengunjungi Sanggar Kartika Budaya. Di sana, saya mengikuti kelas tari tradisional bersama anak-anak setempat dan membantu kegiatan bahasa Inggris untuk anak-anak yang lebih muda. Setelah menghabiskan cukup banyak waktu dengan kegiatan arkeologi dan lingkungan, saya senang dapat mencoba sesuatu yang benar-benar berbeda. Dalam kegiatan tersebut, saya lebih banyak menjadi peserta daripada seorang ahli, dan pengalaman itu kemudian menjadi salah satu hal yang berulang sepanjang perjalanan saya di Indonesia.

Percakapan yang Membuka Perspektif
Setelah dua minggu di Sangiran dan beberapa hari di Yogyakarta, saya melanjutkan perjalanan ke Ambon. Di sana, kegiatan saya mulai berfokus pada pendidikan dan keterlibatan masyarakat. Selama satu minggu, saya berpindah dari sekolah, universitas, hingga program berbasis masyarakat. Dari berbagai pertemuan tersebut, saya menyadari bahwa saya akan belajar sebanyak apa yang saya bagikan.
Di MAN Ambon dan UIN A.M. Sangadji Ambon, saya berbincang dengan para siswa dan mahasiswa mengenai pengalaman berkuliah di Scripps College, kelompok environmental justice yang saya dirikan bersama di kampus, serta kehidupan mahasiswa di Amerika Serikat. Meskipun pengalaman pendidikan kami berbeda, berbincang dengan para pelajar di Indonesia terasa cukup dekat karena kami sama-sama berbicara tentang perkuliahan, kehidupan sebagai mahasiswa, dan pertanyaan mengenai apa yang ingin kami lakukan dengan pendidikan yang kami jalani.
Pengalaman saya bersama komunitas Wadah Rinjani kembali memberikan pengalaman yang berbeda. Para ibu menyambut kami dengan mengajarkan tari tradisional sebelum kami mengikuti sesi berbagi mengenai pengalaman mereka sebagai perempuan dan pengasuh dalam komunitas. Setelah itu, saya membantu mengajarkan bahasa Inggris, dengan materi berupa ungkapan sederhana, warna, angka, dan harga yang dapat digunakan dalam menjalankan usaha kecil mereka serta ketika berinteraksi dengan pengunjung. Saya menghargai bahwa materi yang dibahas berangkat dari kebutuhan yang mereka anggap bermanfaat, bukan sekadar materi yang sudah saya siapkan sebelumnya.
Saya juga berinteraksi dengan para pemuda melalui Pemuda Pelajar Titian Harapan dan membantu guru di PAUD Titian Harapan. Bekerja dengan anak-anak usia dini tentu sangat berbeda dengan berbicara bersama mahasiswa. Saya membantu mengajarkan kosakata bahasa Inggris sederhana tentang emosi dan harus mencari cara yang kreatif agar anak-anak tetap terlibat dalam kegiatan. Pada akhir minggu, saya merasa lebih terbiasa menyesuaikan cara berkomunikasi dengan siapa saya bekerja.
Ambon mengingatkan saya bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang apa yang dapat saya berikan. Terkadang, hal terpenting yang dapat saya lakukan adalah mendengarkan, berpartisipasi, dan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh orang-orang yang bekerja bersama saya.

Di Antara Hutan, Satwa, dan Tanah

Bekerja di PSO Arsari mungkin menjadi bagian yang paling dekat dengan pengalaman saya selama masa magang, meskipun sebelumnya saya belum pernah bekerja dengan orangutan. Melihat orangutan secara langsung untuk pertama kalinya merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Saya mengikuti kegiatan para dokter hewan saat menyiapkan pakan, mengamati satwa, dan perlahan menjadi lebih terbiasa berada di sekitar mereka. Saya kemudian mendapat kesempatan untuk ikut dalam kegiatan pelatihan, memberikan pakan sebagai bagian dari kegiatan, serta membantu pemberian terapi nebulizer kepada Boni.
Saya juga mengunjungi pulau yang sedang dipersiapkan oleh tim sebagai suaka orangutan. Di sana, saya membantu memasang kamera jebak untuk memantau satwa liar. Menyusuri hutan mangrove yang berlumpur dan berjalan tanpa alas kaki di dalam hutan menjadi pengalaman yang benar-benar baru bagi saya. Saya menikmati kesempatan untuk berada di alam sekaligus melihat secara langsung lanskap yang sedang dijaga oleh tim.
Bagian dari kegiatan di PSO yang paling dekat dengan pengalaman saya adalah proyek kecil mengenai tanah yang saya usulkan setelah tim menyampaikan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam mengembangkan kebun dan kebun buah. Saya mengambil sampel tanah dan mengujinya di laboratorium untuk mengetahui tekstur, kemampuan menahan air, dan pH tanah. Setelah itu, saya menyusun panduan berisi rekomendasi mengenai penanaman, pengomposan, dan pemeliharaan kondisi tanah yang lebih sehat. Saya menikmati kesempatan untuk merancang proyek secara mandiri dan menggunakan keterampilan yang saya kembangkan melalui penelitian Ilmu Lingkungan untuk menjawab kebutuhan yang dihadapi secara langsung.

Pengalaman di Kalimantan juga mengingatkan saya pada sisi Ilmu Lingkungan yang mulai saya rindukan. Setelah beberapa tahun lebih banyak melakukan penelitian mengenai tanah dan lingkungan abiotik, bekerja secara dekat dengan satwa kembali mengingatkan saya bahwa saya menikmati kehidupan liar dan kegiatan lapangan. Saya juga menghabiskan waktu bersama tim PSO dalam perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, ketika kami mengikuti berbagai permainan dan berkompetisi untuk mendapatkan hadiah. Kegiatan tersebut menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenal rekan-rekan yang selama ini bekerja bersama saya di luar kegiatan lapangan.
Saya juga menjadi relawan di sekolah YKI dan berinteraksi dengan siswa dari berbagai usia. Saya mengikuti kegiatan pembelajaran bahasa Inggris di kelas sebelum kemudian memimpin beberapa aktivitas bersama para siswa. Saya juga bergabung dengan klub Taekwondo tingkat SMP, menggunakan pengalaman saya sebagai pemegang sabuk hitam untuk memimpin latihan dan melakukan demonstrasi. Saya bertemu dengan pengurus OSIS tingkat SMP dan SMA serta mengikuti diskusi bersama klub bahasa Inggris. Saya juga berkesempatan berbincang dengan para guru dan berbagi pengalaman mengenai sistem pendidikan di Amerika Serikat serta perbandingannya dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Kembali ke Jakarta, Melihat dengan Perspektif Baru
Minggu terakhir membawa saya kembali ke Jakarta, tempat saya terlibat dalam beberapa program komunitas Wadah. Di PAUD Kuntum Harapan dan PAUD Al Hidayah, saya membantu guru dalam kegiatan bahasa Inggris untuk anak-anak usia dini, dengan materi seperti warna, ruangan di dalam rumah, dan keluarga. Saya juga berbincang dengan para guru dan kepala sekolah mengenai kegiatan mereka sehari-hari, tantangan yang dihadapi, serta perbedaan pendidikan anak usia dini di Indonesia dengan pengalaman yang saya lihat di Amerika Serikat.
Di penghujung minggu, saya mengunjungi TPQ Al Hidayah dan LKP Al Hidayah di Penjaringan. Saya membantu membagikan hadiah dari perlombaan Hari Kemerdekaan, bertemu dengan para siswa, serta mendampingi siswa SMP dan SMA membuat profil singkat tentang diri mereka. Pada titik ini, saya telah berinteraksi dengan anak-anak, remaja, mahasiswa, guru, peneliti, konservator, dan anggota masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia. Setiap kelompok membutuhkan pendekatan yang sedikit berbeda, dan sepanjang perjalanan ini saya menjadi semakin terbiasa untuk memahami kebutuhan tersebut.

Ketika melihat kembali enam minggu saya di Indonesia, saya menyadari betapa banyak arah yang saya jalani selama perjalanan ini. Beberapa pengalaman yang paling saya sukai justru merupakan hal-hal yang tidak dapat saya rencanakan sebelumnya—menerima fosil dari seorang penemu fosil setempat, belajar tari tradisional, menyusuri hutan mangrove, hingga bermain permainan Hari Kemerdekaan bersama rekan-rekan kerja.
Lebih dari apa pun, saya menikmati bagaimana pengalaman ini terus memberi saya kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Pengalaman saya di Indonesia semakin menguatkan pemahaman bahwa kerja lingkungan tidak dapat dipisahkan dari manusia, budaya, pendidikan, maupun pengetahuan lokal. Semuanya saling berkaitan, dan memahami hubungan tersebut memberi saya gambaran yang lebih jelas mengenai bidang kerja yang ingin saya tekuni ke depannya.

